1.1. Ruang Lingkup dan Metodologi Penyelidikan
Ruang lingkup penyelidikan terbatas pada daerah penyelidikan dan di sekitarnya, penyelidikan itu sendiri didahului dengan penyelidikan Geologi dan Hidrogeologi yang dilanjutkan dengan penyelidikan pendugaan geolistrik. Penyelidikan geologi dan hidrogeologi akan menyajikan data tentang batuan dan perlapisan batuan pada daerah permukaan (singkapan) sementara hidrogeologi akan menyajikan data tentang kondisi keairan batuan sebagai lapisan pembawa air (akifer).
Pendugaan geolistrik akan menyajikan data lapangan berupa besaran tahanan jeis semu vertikal batuan dalam satuan Ohm-meter.
Metodologi penyelidikan Geologi dan Hidrogeologi dengan melakukan kajian data skunder dari peta geologi lembar Bali Nusatenggara Skala 1 : 250.000 yang dilanjutkan dengan pengamatan lapangan pada daerah penyelidikan dengan mengkaji keadaan geologi yang meliputi perlapisan batuan, struktur geologi serta sifat keairan batuan. Pendugaan geolistrik dilakukan dengan model susunan elektroda schlumberger. Data lapangan disajikan dalam bentuk kurva tahanan Jenis Semu vertikal batuan versus kedalaman. Penafsiran data lapangan dikerjakan dengan menggunakan perangkat lunak (software) Lahey Fortran
II. KONDISI GEOLOGI
2.1. Geologi Regional
Secara regional, morfologi, stratigrafi dan struktur geologi dapat diterangkan sebagai berikut :
2.1.1. Morfologi
Bentuk morfologi umumnya dikontrol oleh proses erosi, struktur dan jenis litologi. Menurut Van Zuidam (1968) morfologi suatu daerah dapat diklasifikasikan berdasarkan kemiringan lerengnya menjadi 7 satuan morfologi.
Tabel 1. Klasifikasi Morfologi dan Kemiringan Lereng (Van Zuidam, 1968)
| Bentang Alam (Morfologi) | Sudut Lereng | Proses | |
| % | ( …… )º | ||
| Dataran atau hampir datar Miring landai Miring Agak Curam Curam Sangat Curam Terjal | 0 – 2 2 – 7 7 – 15 15 – 30 30 – 70 70 – 140 > 140 | 0 – 2 2 - 4 4 – 8 8 – 16 16 – 35 35 – 55 > 55 | Denudasi kecil Ada solifluction alur air dan sheet wash Erosi soil yang cukup berbahaya Bahaya gerakantanah terutama jenis creep Denudasi kuat Tak ada soil dan denudasi kuat Denudasi sangat kuat |
2.1.2. Stratigrafi
Secara umum, daerah penyelidikan berdasarkan Peta Geologi Lembar Bali, Nusa Tengara, Skala 1 : 250.000 yang disusun oleh Purbohadiwijoyo., dkk (1998) litologi dari muda sampai tua dapat dilihat pada tabel di bawah ini (Tabel 2)
Tabel 2. Stratigrafi Regional (Ratman, N., dkk (1994)).
| No | Satuan/Formasi | Litologi | Umur |
| 1 | Satuan Aluvial ( Qa ) | Lempung, lanau, pasir, kerikil | Holosen |
| 2 | Batuan gunungapi kelompok Buyan, bratan dan batur ( Qpbb ) | Tuff dan lahar | Holosen - |
| 3 | Formas Selatan ( Tmps ) | Batugamping terumbu, setempat napal, berfosil | Miosen Akhir |
2.1.3. Struktur Geologi
Secara regional, struktur geologi yang terdapat di daerah penyelidikan adalah patahan (sesar) dengan arah Timur Laut - Barat Daya.
2.2. Geologi Daerah Penyelidikan
2.2.1. Morfologi
Berdasarkan pengamatan lapangan maka morfologi daerah penyelidikan menurut klasifikasi Van Zuidam ( 1968 ) merupakan satuan morfologi dataran pantai. Satuan ini sebagian besar merupakan lokasi industri perikanan.
2.2.2. Litologi
Litologi yang menyusun daerah penyelidikan berupa batupasir berwarna coklat kehitaman, ukuran butir halus - sedang. Litologi ini terlihat menyebar di lokasi daerah penyelidikan. Di bawah satuan in terlihat satuan batugamping, berwarna keputihan dan keras. Ketebalan satuan ini tidak dapat diketahui dengan pasti.
2.2.3. Struktur Geologi
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan tidak ditemukan adanya indikasi struktur pada daerah penyelidikan..
III. HIDROGEOLOGI
3.1. Sikap Batuan Terhadap Air
Berdasarkan pengamatan geologi yang dilakukan di lapangan, singkapan batuan yang terdapat di daerah penyelidikan adalah batupasir dengan ukuran butir halus – sedang, berwarna coklat kehitaman, memiliki porositas yang baik. Batuan ini dapat bertindak sebagai akifer ( lapisan pembawa air ) dengan jenis akifer sistim antar pori dengan kesarangan air tinggi. Di bawah satuan ini terdapat satuan batugamping terumbu yang bersifat keras dan padat. Secara geologi diperkirakan pada lokasi penyelidikan tidak ditemukan lapsan akifer ( lapsan pembawa air ) untuk sumur dalam.
3.2. Kondisi Air Tanah
Sumber air untuk kebutuhan sehari – hari diperoleh utuk kebutuhan pabrik dipasok dari luar lokasi pabrik. Air terlihat jernih dan tidak berbau. Pada lokasi penyelidikan terdapat sumur bor dengan kedalaman sekitar 30 meter dengan air asin yang dipergunakan sebagai air penyuci ikan.
IV. PENAFSIRAN GEOLISTRIK
4.1. Metoda Penyelidikan dan Analisis Geofisika
Penyelidikan hidrogeologi dengan metoda tahanan jenis/geolistrik yang dikerjakan adalah metoda model susunan elektroda Schlumberger. Rentang kabel Arus ( I ) dan Potensial (P) disesuaikan kebutuhan (Gbr 1). Dalam hal ini 1.000 dan 100 meter untuk rentang kabel arus dan potensial ( mulai dari l/2 = 1,50 – 500 meter dan a/2 = 0,50 – 50 meter ). Proses pengolahan data menggunakan perangkat lunak Lahey Fortran
Analisis tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya ( Tabel 3 ) dapat menafsirkan letak dan posisi akifer airtanah dalam. Disamping itu besarnya tahanan jenis dapat mengidentifikasi batuan serta sifat keairan batuan. Morfologi dan jenis batuan akan memberi pengaruh pada keterdapatan airtanah.
Dari 3 (tiga) titik ukur yang dikerjakan, dapat ditafsirkan bahwa lapisan batuan bawah permukaan tidak bervariasi atau relatif homogen bila ditinjau dari pengelompokan besarnya tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya. Kecenderungan batuan bawah permukaan kompak sampai sangat kompak. Pada bagian atas (tanah penutup) terlihat batuan berupa batupasir. Sementara analisis batuan bawah permukaan secara umum pada semua titik pengukuran adalah sebagai berikut:
o Titik ukur BNA.1. Pada kedalaman 0,0 – 0,8 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 3.997 Wm berupa tanah penutup dengan litologi batupasir pada bagian atas. Pada kedalaman 0,80 – ≥ 233,20 dengan tahanan jenis vertikal sebenarnya sebesar 7 799, 2.096, 5.126, 63.242, 53.041, 6.685 dan 16.152 Wm adalah batuan yang sangat kompak/masif dengan kesarangan air sangat rendah, diduga tidak dapat bertindak sebagai akifer dangkal sampai dalam yang produktif.
o Titik ukur BNA.2. Pada kedalaman 0,0 – 3,90 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 266, 139 dan 301 Wm berupa tanah penutup dengan litologi batupasir pada bagian atas. Pada kedalaman 3,90 – 22,30 dengan tahanan jenis vertikal sebenarnya sebesar 52 dan 359 Wm adalah batuan yang kurang kompak sampai agak kompak dengan kesarangan air rendah – sedang. Pada kedalaman 22,30 – ≥ 209,80 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 2.391, 32.158 dan 52.820 Wm adalah batuan sangat kompak/masif dengan kesarangan air sangat rendah, diduga tidak dapat bertindak sebagai akifer dangkal sampai dalam yang produktif.
o Titik ukur BNA.3. Pada kedalaman 0,0 – 3,60 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 390, 205 dan 18 Wm berupa tanah penutup dengan litologi batupasir pada bagian atas. Pada kedalaman 3,60 – 9,20 dengan tahanan jenis vertikal sebenarnya sebesar 12 Wm adalah batuan yang kurang kompak dengan kesarangan airtinggi, kondisi air diduga asin – payau. Pada kedalaman 9,20 – ≥ 135,0 meter dengan tahanan jenis vertikal sebenarnya sebesar 127; 917; 760 dan 839 Wm adalah batuan agak kompak sampai cukup kompak dengan kesarangan air sangat rendah –sampai rendah, diduga dapat bertindak sebagai akifer dangkal sampai dalam yang baik.
Berdasarkan besarnya nilai tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya, untuk tahanan jenis batuan > 1.000 Wm tingkat kesarangan air (porositas) sangat rendah dan permeabilitas sangat tinggi, lapisan ini ditafsirkan sebagai lapisan bukan akifer.
Sementara nilai tahanan jenis sebesar 500 - ≤ 1.000 Wm, tingkat kesarangan air sangat rendah sampai rendah, tahanan jenis sebesar 100 - £ 500, tingkat kesarangan air rendah sampai sedang, tahanan jenis sebesar 50 - ≤ 100 kesarangan air sedang sampai tinggi, tahanan jenis sebesar ≤ 50 kesarangan air tinggi sampai sangat tinggi.Tahanan Janis Vertikal Batuan sebenarnya ≤ 10 Wm diperkirakan kualitas air yang kurang baik, untuk daerah pantai kualitas air payau - asin. Besarnya tahanan jenis vertikal batuan, ketebalan/kedalaman dari lapisan batuan bawah permukaan dan perkiraan litologi dari batuannya sebagai lapisan pembawa air adalah seperti Tabel 3. berikut ini.
Tabel 3. Tahanan Jenis Vertikal Batuan Sebenarnya
| No. Titik | Tebal Lapisan (m) | Kedalaman (m) | Resistivity (Wm) | Formasi /Perkiraan Litologi *) | Keterangan |
| BNA.1 | 0,80 1,40 3,60 4,20 14,70 40,30 168,20 | 0,00 – 0,80 0,80 – 2,20 2,20 – 5,80 5,80 – 10,00 10,00 – 24,70 24,70 – 65,00 65,00 -- 233,20 233,20-- ~ | 3.997 7.799 2.096 5.126 63.242 53.041 6.685 16.152 | Tanah penutup Tuff dan lahar Tuff dan lahar Tuff dan lahar Form. selatan Form. Selatan Form. Selatan Form. Selatan | Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer |
| BNA.2 | 0,40 1,20 2,30 8,40 10,00 36,00 151,50 | 0,00 – 0,40 0,40 – 1,60 1,60 – 3,90 3,90 – 12,30 12,30 – 22,30 22,30 – 58,30 58,30 – 209,80 209,80 –– ~ | 266 139 301 52 359 2.391 32.158 52.820 | Tanah penutup (Qa) (Qa) Tuff, Tuff, Form. Selatan Form. Selatan Form. Selatan | Diduga akifer dangkal Diduga akifer dangkal Diduga akifer dangkal debit tinggi Diduga akifer dangkal debit sedang Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer |
| BNA.3 | 0,80 0,90 2,00 5,60 7,20 36,10 82,40 | 0,00 – 0,80 0,80 – 1,60 1,60 – 3,60 3,60 – 9,20 9,20 – 16,50 16,50 – 52,60 52,60 – 135,00 135,00 –– ~ | 390 205 18 12 127 917 760 839 | Tanah penutup (Qa) (Qa) (Qa) Tuff, Tuff, Tuff, Form. Selatan | Diduga akifer dangkal Diduga akifer dangkal Diduga akifer dangkal Diduga akifer dangkal debit sedang Diduga akifer dangkal debit rendah Diduga akifer dalam debit rendah Diduga akifer dalam |
Qa. = Lempung, lanau, pasir, kerikil
Qpbb = Tuff dan lahar
Formasi Selatan = Batugamping terumbu, setempat napal, berfosil
V. KESIMPULAN DAN S A R A N
Dari pengamatan lapangan dan hasil pengukuran geolistrik dapat disimpulkan dan disarankan bahwa :
5.1. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan maka satuan morfologi daerah penyelidikan adalah berupa satuan morfologi dataran pantai dengan batuan yang mendasari berupa batupasir dan batugamping. Satuan ini umumnya dimanfaatkan sebagai lahan pemiukiman dan daerah industri.
2. Berdasarkan hasil pengamatan singkapan batuan di lapangan, batuan yang terdapat di daerah penyelidikan berupa batupasir berwarna coklat kehitaman, ukuran butir halus - sedang. Di bawah satuan ini terdapat satuan batugamping terumbu berwarna keputihan dan bersifat keras dan padat.
3. Sumber air bersih utuk perusahaan dipasok dari luar dan kondisi air jernih, tidak berbau.
4. Hasil pengukuran geolistrik pada 3 (tiga) titik ukur, batuan yang bertindak sebagai akifer dangkal maupun dalam atau dengan kata lain akifer dangkal sampai dalam adalah :
a. Titik ukur BNA.1. dari hasil pengukuran geolistrik, tidak terlihat adanya lapisan pembawa air (akifer) baik dangkal maupu dangkal sampai dalam. Batuan yang menyusun lapisan ini terdata sebagai batuan masif/sangat kompak. Sehingga tidak mungkinkan sebagai lapisan pembawa air. Litologi batugamping terumbu dari Formasi Selatan.
b. Titik ukur BNA.2. dari hasil pengukuran geolistrik, pada kedalaman 3,90 – 22,3 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 52 dan 359 Wm diduga sebagai lapisan pembawa air (akifer) dangkal dengan kesarangan air rendah, litologi batugamping terumbu dari Formasi Selatan. Akumulasi air melalui sistim rekahan. Pada kedalaman 22,30 – ≥ 209,8 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 2.391; 32.158; dan 52.820 Wm, adalah batuan yang sangat kompak dengan kesarangan air sangat rendah, litologi batugamping terumbu dari Formasi Selatan diduga tidak dapat bertindak sebagai akifer dalam yang produktif.
c. Titik ukur BNA.3. dari hasil pengukuran geolistrik, pada kedalaman 9,20 – ≥ 135,0 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 127; 917; 760 dan 839 Wm, adalah batuan yang agak kompak sampai cukup kompak dengan kesarangan air sangat rendah – rendah, litologi batugamping terumbu dari Formasi Selatan diduga dapat bertindak sebagai akifer dalam yang yang baik.
Dari pengamatan lapangan dan hasil interpretasi data geolistrik pada 3 (tiga) titik ukur diatas dapat disarankan bahwa :
1. Dari 3 (tiga) titik ukur yang dikerjakan dapat disarankan bahwa : Titik ukur BNA.1. dari hasil pengukuran geolistrik, tidak terlihat adanya lapisan akifer jadi dilokasi ini tidak dapat dijadikan acuan untuk pedoman pemboran. Titik ukur BNA.2. dari hasil pengukuran geolistrik pada kedalaman 3,90 – 22,30 meter diduga sebagai lapisan akifer dangkal, Pemboran dapat dilakukan sampai kedalaman 25 meter dengan konstruksi sampai kedalaman 25 meter termasuk saringan, diameter lobang bor 8 inch, pipa jambang diameter 6 inch. Titik ukur BNA.3. dari hasil pengukuran geolistrik pada kedalaman 9,20 – 135,0 meter diduga sebagai lapisan akifer dangkal sampai dalam, Sehubungan Titik Ukur BNA.3. dekat dengan lokasi Pabrik maka pemboran dapat dipedomani hingga 135 meter. Diameter lobang bor Ǿ 8”, pipa jambang Ǿ 6”, kedalaman konstruksi dapat dipedomani pada pengukuran Titik Ukur BNA3.
2. Sistim konstruksi sumur bor, diameter lobang bor Ǿ 8, Pipa jambang Ǿ 6 inch sampai kedalaman yang disesuaikan, sistim sambungan las dan memakai reduser. Pengisian gravel pack ukuran 2 – 5 mm, diisi pada posisi 10 meter diatas saringan terdangkal, posisi saringan berada pada kedalaman lebih dari 52 meter minimal, perhatikan lapisan yang diduga pembawa air asin – payau yaitu pada kedalaman sampai 9,20 me
PENYELIDIKAN HIDROGEOLOGI DENGAN METODA TAHANAN JENIS / GEOLISTRIK SUSUNAN ELEKTRODA SCHLUMBERGER
DI – PT. HATNI PENAMBULAI
KAB. KEPULAUAN ARU PROV. MALUKU
1.1. Lokasi Penyelidikan
Lokasi penyelidikan berada di Pulau Penambulai dan sekitarnya (Pabrik Pembekuan Ikan) Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku dengan jumlah titik ukur geolistrik sebanyak 3 (tiga) titik.
1.2. Ruang Lingkup dan Metodologi Penyelidikan
Ruang lingkup penyelidikan terbatas pada daerah penyelidikan dan di sekitarnya, penyelidikan itu sendiri didahului dengan penyelidikan Geologi dan Hidrogeologi yang dilanjutkan dengan penyelidikan pendugaan geolistrik. Penyelidikan geologi dan hidrogeologi akan menyajikan data tentang batuan dan perlapisan batuan pada daerah permukaan (singkapan) sementara hidrogeologi akan menyajikan data tentang kondisi keairan batuan sebagai lapisan pembawa air (akifer).
Pendugaan geolistrik akan menyajikan data lapangan berupa besaran tahanan jeis semu vertikal batuan dalam satuan Ohm-meter.
Metodologi penyelidikan Geologi dan Hidrogeologi dengan melakukan kajian data skunder dari peta geologi lembar Aru Skala 1 : 250.000 yang dilanjutkan dengan pengamatan lapangan pada daerah penyelidikan dengan mengkaji keadaan geologi yang meliputi perlapisan batuan, struktur geologi serta sifat keairan batuan. Pendugaan geolistrik dilakukan dengan model susunan elektroda schlumberger. Data lapangan disajikan dalam bentuk kurva tahanan Jenis Semu vertikal batuan versus kedalaman. Penafsiran data lapangan dikerjakan dengan menggunakan perangkat lunak (software) Lahey Fortran
II. KONDISI GEOLOGI
2.1. Geologi Regional
Secara regional, morfologi, stratigrafi dan struktur geologi dapat diterangkan sebagai berikut :
2.1.1. Morfologi
Bentuk morfologi umumnya dikontrol oleh proses erosi, struktur dan jenis litologi. Menurut Van Zuidam (1968) morfologi suatu daerah dapat diklasifikasikan berdasarkan kemiringan lerengnya menjadi 7 satuan morfologi.
Tabel 1. Klasifikasi Morfologi dan Kemiringan Lereng (Van Zuidam, 1968)
| Bentang Alam (Morfologi) | Sudut Lereng | Proses | |
| % | ( …… )º | ||
| Dataran atau hampir datar Miring landai Miring Agak Curam Curam Sangat Curam Terjal | 0 – 2 2 – 7 7 – 15 15 – 30 30 – 70 70 – 140 > 140 | 0 – 2 2 - 4 4 – 8 8 – 16 16 – 35 35 – 55 > 55 | Denudasi kecil Ada solifluction alur air dan sheet wash Erosi soil yang cukup berbahaya Bahaya gerakantanah terutama jenis creep Denudasi kuat Tak ada soil dan denudasi kuat Denudasi sangat kuat |
2.1.2. Stratigrafi
Secara umum, daerah penyelidikan berdasarkan Peta Geologi Lembar Aru Skala 1 : 250.000 yang disusun oleh Ratman, N., dkk (1994) litologi dari muda sampai tua dapat dilihat pada tabel di bawah ini (Tabel 2)
Tabel 2. Stratigrafi Regional (Ratman, N., dkk (1994)).
| No | Satuan/Formasi | Litologi | Umur |
| 1 | Satuan Aluvial ( Qa ) | Lempung, lanau, pasir, kerikil | Holosen |
| 2 | Formasi Tanah Merah ( Qt ) | Batupasir kuarsa bersisipan konglomerat, batulanau berkarbon. | Holosen - Plistosen |
| 3 | Formasi Koba ( Tmk ) | Batugamping kalkarenit | Miosen Awal – Mosen Tengah |
2.1.3. Struktur Geologi
Secara regional, struktur geologi yang terdapat di daerah penyelidikan adalah patahan (sesar) dengan arah Timur Laut - Barat Daya.
2.2.1. Morfologi
Berdasarkan pengamatan lapangan maka morfologi daerah penyelidikan menurut klasifikasi Van Zuidam ( 1968 ) merupakan satuan morfologi dataran pantai. Satuan ini sebagian besar masih merupakan hutan bakau dan perkebunan kelapa.
2.2.2. Litologi
Litologi yang menyusun daerah penyelidikan berupa batupasir berwarna kecoklatan, ukuran butir sedang – kasar dan terlihat cangkang binatang. Litologi ini terlihat menyebar di lokasi daerah penyelidikan dengan ketebalan sektar 4 – 5 meter, hal ini dapat diamati pada sumur gali yang terdapat di lokasi penyelidikan. Di bawah satuan ini terlihat satuan batugamping, berwarna keputihan dan keras. Ketebalan satuan ini tidak dapat diketahui dengan pasti.
2.2.3. Struktur Geologi
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan tidak ditemukan adanya indikasi struktur pada daerah penyelidikan..
III. HIDROGEOLOGI
3.1. Sikap Batuan Terhadap Air
Berdasarkan pengamatan geologi yang dilakukan di lapangan, singkapan batuan yang terdapat di daerah penyelidikan adalah batupasir dengan ukuran butir sedang -kasar, berwarna kecoklatan, memiliki porositas yang baik. Batuan ini dapat bertindak sebagai akifer ( lapisan pembawa air ) dengan jenis akifer sistim antar pori dengan kesarangan air tinggi. Batuan ini merupakan lapisan pembawa air ( lapisan akifer ) sumur gali yang terdapat di lokasi ini. Di bawah satuan ini terdapat satuan batugamping yang bersifat keras dan padat sehingga air pada sumur gali terlihat keluar dari batas ke dua litologi ini. Secara geologi diperkirakan pada lokasi penyelidikan tidak ditermukan lapsan akifer ( lapsan pembawa air ) untuk sumur dalam.
3.2. Kondisi Air Tanah
Sumber air untuk kebutuhan sehari – hari diperoleh dari sumur gali dengan kedalaman sekitar 4 - 5 meter dengan debit yang kecil dengan TKA sekitar 4 meter. Air terlihat jernih dan tidak berbau. Sumur gali ini terdapat pada jarak sekitar kurang lebih 2,8 Km dari lokasi penyelidikan. Air mengisi pori antar butir dari satuan batupasir yang bertindak sebagai lapisan pembawa air dan megalir tepat pada perbatasan dengan litologi di bawahnya.
IV. PENAFSIRAN GEOLISTRIK
4.1. Metoda Penyelidikan dan Analisis Geofisika
Penyelidikan hidrogeologi dengan metoda tahanan jenis/geolistrik yang dikerjakan adalah metoda model susunan elektroda Schlumberger. Rentang kabel Arus ( I ) dan Potensial (P) disesuaikan kebutuhan (Gbr 1). Dalam hal ini 1.000 dan 100 meter untuk rentang kabel arus dan potensial ( mulai dari l/2 = 1,50 – 500 meter dan a/2 = 0,50 – 50 meter ). Proses pengolahan data menggunakan perangkat lunak Lahey Fortran
Analisis tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya ( Tabel 3 ) dapat menafsirkan letak dan posisi akifer airtanah dalam. Disamping itu besarnya tahanan jenis dapat mengidentifikasi batuan serta sifat keairan batuan. Morfologi dan jenis batuan akan memberi pengaruh pada keterdapatan airtanah.
Dari 3 (tiga) titik ukur yang dikerjakan, dapat ditafsirkan bahwa lapisan batuan bawah permukaan tidak bervariasi atau relatif homogen bila ditinjau dari pengelompokan besarnya tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya. Kecenderungan batuan bawah permukaan kompak sampai sangat kompak. Pada bagian atas (tanah penutup) terlihat batuan berupa batupasir kuarsa, putih kecoklatan - kemerahan. Sementara analisis batuan bawah permukaan secara umum pada semua titik pengukuran adalah sebagai berikut:
o Titik ukur PNB.1. Pada kedalaman 0,0 – 4,5 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 10 dan 4 Wm berupa tanah penutup dengan litologi batupasir kuarsa pada bagian atas.
Pada kedalaman 4,50 – 13,20 dengan tahanan jenis vertikal sebenarnya sebesar 12 Wm adalah batuan yang kurang kompak dengan kesarangan air tinggi, kondisi air diduga asin – payau. Pada kedalaman 13,20 – 16 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 222 Wm, adalah batuan yang agak kompak, kesarangan air rendah, sebagai akifer dangkal. Pada kedalaman 16 – ≥ 208,40 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 7.057 dan 6.329 Wm adalah batuan sangat kompak (masif) dengan kesarangan air sangat rendah, diduga tidak dapat bertindak sebagai akifer dangkal sampai dalam yang produktif.
· Titik ukur PNB.2. Pada kedalaman 0,0 – 3,0 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 651, 891 dan 289 Wm berupa tanah penutup dengan litologi batupasir kuarsa pada bagian atas. Pada kedalaman 3,0 – 17,60 dengan tahanan jenis vertikal sebenarnya sebesar 28 dan 601 Wm adalah batuan yang kurang kompak sampai agak kompak dengan kesarangan air rendah – sedang. Pada kedalaman 17,60 – ≥ 229,0 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 6.670, 40.043 dan 20.243 Wm adalah batuan sangat kompak (masif) dengan kesarangan air sangat rendah, diduga tidak dapat bertindak sebagai akifer dangkal sampai dalam yang produktif.
· Titik ukur PNB.3. Pada kedalaman 0,0 – 4,50 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 1.309 dan 128 Wm berupa tanah penutup dengan litologi batupasir kuarsa pada bagian atas. Pada kedalaman 4,50 – 10,80 dengan tahanan jenis vertikal sebenarnya sebesar 593 Wm adalah batuan yang agak kompak dengan kesarangan air rendah. Pada kedalaman 10,80 – ≥ 279,0 meter dengan tahanan jenis vertikal sebenarnya sebesar 2.867, 24.630 dan 7.867 Wm adalah batuan sangat kompak (masif) dengan kesarangan air sangat rendah, diduga tidak dapat bertindak sebagai akifer dangkal sampai dalam yang produktif.
Berdasarkan besarnya nilai tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya, untuk tahanan jenis batuan > 1.000 Wm tingkat kesarangan air (porositas) sangat rendah dan permeabilitas sangat tinggi, lapisan ini ditafsirkan sebagai lapisan bukan akifer.
Sementara nilai tahanan jenis sebesar 500 - ≤ 1.000 Wm, tingkat kesarangan air sangat rendah sampai rendah, tahanan jenis sebesar 100 - £ 500, tingkat kesarangan air rendah sampai sedang, tahanan jenis sebesar 50 - ≤ 100 kesarangan air sedang sampai tinggi, tahanan jenis sebesar ≤ 50 kesarangan air tinggi sampai sangat tinggi.Tahanan Janis Vertikal Batuan sebenarnya ≤ 10 Wm diperkirakan kualitas air yang kurang baik, untuk daerah pantai kualitas air payau - asin. Besarnya tahanan jenis vertikal batuan, ketebalan/kedalaman dari lapisan batuan bawah permukaan dan perkiraan litologi dari batuannya sebagai lapisan pembawa air adalah seperti Tabel 3. berikut ini.
Tabel 3. Tahanan Jenis Vertikal Batuan Sebenarnya
| No. Titik | Tebal Lapisan (m) | Kedalaman (m) | Resistivity (Wm) | Formasi /Perkiraan Litologi *) | Keterangan |
| PNB.1 | 0,30 4,20 8,70 2,80 192,40 | 0,00 – 0,30 0,30 – 4,50 4,50 – 13,20 13,20 – 16,00 16,00 – 208,40 208,40 – ~ | 10 4 12 222 7.057 6.329 | Tanah penutup Form Tanah Merah*) Form. Koba**) Form. Koba Form. Koba Form. Koba | Diduga akifer dangkal air asin – payau Diduga akifer dangkal air payau Diduga akifer dangkal debit rendah Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer |
| PNB.2 | 0,70 1,30 1,10 3,00 11,60 51,80 159,60 | 0,00 – 0,70 0,70 – 1,90 1,90 – 3,00 3,00 – 6,00 6,00 – 17,60 17,60 – 69,40 69,40 – 229,00 229,00 –– ~ | 651 891 289 28 601 6.670 40.043 20.243 | Tanah penutup Form Tanah Merah*) Form. Koba Form. Koba Form. Koba Form. Koba Form. Koba Form. Koba | Diduga akifer dangkal Diduga akifer dangkal Diduga akifer dangkal debit sedang-tinggi Diduga akifer dangkal debit rendah Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer |
| PNB.3 | 0,70 3,80 6,30 26,10 242,20 | 0,00 – 0,70 0,70 – 4,50 4,50 – 10,80 10,80 – 36,90 36,90 – 279,00 279,00 –– ~ | 1.309 128 593 2867 24.630 7.867 | Tanah penutup Form Tanah Merah*) Form. Koba Form. Koba Form. Koba Form. Koba | Diduga akifer dangkal Diduga akifer dangkal debit rendah Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer Diduga bukan akifer |
*) = Batupasir kuarsa bersisipan konglomerat, batulanau berkarbon.
**) = Batugamping kalkarenit
V. KESIMPULAN DAN S A R A N
Dari pengamatan lapangan dan hasil pengukuran geolistrik dapat disimpulkan dan disarankan bahwa :
5.1. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan maka satuan morfologi daerah penyelidikan adalah berupa satuan morfologi dataran pantai dengan batuan yang mendasari berupa batupasir dan batugamping. Satuan ini umumnya dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan kelapa dan hutan bakau.
2. Berdasarkan hasil pengamatan singkapan batuan di lapangan, batuan yang terdapat di daerah penyelidikan berupa batupasir berwarna kecoklatan dengan cangkang binatang, ukuran butir sedang – kasar. Di bawah satuan ini terdapat satuan batugamping berwarna keputihan dan bersifat keras dan padat.
3. Sumber air utuk penduduk diperoleh dari sumur gali dengan kedalaman 4 - 5 meter dengan debit yang kecil dan kondisi air jernih, tidak berbau.
4. Hasil pengukuran geolistrik pada 3 (tiga) titik ukur, batuan yang bertindak sebagai akifer dangkal maupun dalam atau dengan kata lain akifer dangkal sampai dalam adalah :
a. Titik ukur PNB.1. dari hasil pengukuran geolistrik, pada kedalaman 13,20 – 16,0 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 222 Wm diduga sebagai lapisan pembawa air (akifer) dangkal dengan kesarangan air rendah, litologi kalkarenit kapuran dari Formasi Koba. Akumulasi air melalui sistim rekahan. Pada kedalaman 0 – 13,20 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 10, 4 dan 12 Wm, adalah batuan kurang kompak dengan kesarangan air tinggi dengan kondisi air diduga asin - payau, litologi batupasir kuarsa dari Formasi Tanah Merah. Pada bagian terdalam 16 - ≥ 208,40 meter dengan tahanan jenis 7.057 dan 6.239 adalah batuan yang sangat kompak (masif), litologi kalkarenit kapuran dari Formasi Koba diduga tidak dapat bertindak sebagai akifer dalam yang produktif.
b. Titik ukur PNB.2. dari hasil pengukuran geolistrik, pada kedalaman 3,0 – 17,6 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 28 dan 601 Wm diduga sebagai lapisan pembawa air (akifer) dangkal, dengan kesarangan air rendah, litologi kalkarenit kapuran dari Formasi Koba. Akumulasi air melalui sistim rekahan. Pada kedalaman 0,0 – 3,0 meter, tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya 651, 891 dan 289 adalah batuan yang agak kompak, kesarangan air rendah, litologi batupasir kuarsa dari Formasi Tanah Merah. Pada kedalaman 17,60 ≥ 229,0 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 40.043 dan 20.243 Wm, adalah batuan yang sangat kompak dengan kesarangan air sangat rendah, litologi kalkarenit kapuran dari Formasi Koba, diduga tidak dapat bertindak sebagai akifer dalam yang produktif.
c. Titik ukur PNB.3. dari hasil pengukuran geolistrik, pada kedalaman 4,5 – 10,8 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 593 Wm diduga sebagai lapisan pembawa air (akifer) dangkal, dengan kesarangan air rendah, litologi kalkarenit kapuran dari Formasi Koba. Akumulasi air melalui sistim rekahan. Pada kedalaman 0,0 – 4,5 meter, tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya 1.309, dan 128 Wm adalah batuan yang agak kompak, kesarangan air rendah, litologi batupasir kuarsa dari Formasi Tanah Merah. Pada kedalaman 10,80 ≥ 279,0 meter dengan tahanan jenis vertikal batuan sebenarnya sebesar 2.867, 24.630 dan 7.867 Wm, adalah batuan yang sangat kompak dengan kesarangan air sangat rendah, litologi kalkarenit kapuran dari Formasi Koba, diduga tidak dapat bertindak sebagai akifer dalam yang produktif.
d. Dari 3 (tiga) titik ukur diatas jelas terlihat bahwa batuan bawah permukaan dengan kedalaman lebih besar dari 10,8 – 17,6 meter adalah batuan yang sangat kompak dan tidak dapat bertindak sebagai akifer untuk sumur bor dalam.
5.2. S a r a n
Dari pengamatan lapangan dan hasil interpretasi data geolistrik pada 3 (tiga) titik ukur diatas dapat disarankan bahwa :
1. Dari 3 (tiga) titik ukur yang dikerjakan dapat disarankan bahwa :
a. Titik ukur PNB.1, PNB.2, dan PNB.3. dari hasil pengukuran geolistrik, untuk pemboran air tanah dalam tidak dapat dilakukan mengingat batuan pada kedalaman lebih besar dari 10,8 – 17,6 meter adalah batuan yang sangat kompak/masif dan tidak dapat bertindak sebagai akifer untuk sumur bor dalam. Untuk pemboran dangkal dapat dilakukan sampai kedalaman 20 meter pada areal/daerah penyelidikan.
b. Perhatikan dan waspadai kedalaman 0,0 – 13,2 meter pada Titik Ukur PNB.1. yang diduga kondisi air asin – payau.
2. Sistim konstruksi sumur bor, lobang bor Ǿ 8 inch. Pipa Ǿ 6 inch sampai kedalaman 20 meter, termasuk saringan, posisi saringan berada pada kedalaman 15 – 18 meter.
| |